BeritaHot¬†| Dalam sejarah manusia, baru ada dua senjata nuklir yang digunakan untuk tujuan memusnahkan– yang pertama dan terakhir kalinya: bom atom’Little Boy’ dan ‘Fat Boy’ yang dijatuhkan ke Hiroshima serta Nagasaki, Jepang di penghujung Perang Dunia II.

Ketika pada tahun 1949 Uni Soviet mengembangkan bom atom pertamanya, di tengah terjadinya Perang Dingin yang terjadi sejak 1947. Konfrontasi antara Amerika Serikat dan Moskow meningkat ke tingkat ancaman nuklir.

Dan dunia pun dicekam kekhawatiran. Adu nuklir atau bahkan Perang Dunia III bisa pecah kapanpun. Maka, bunker-bunker pun dibangun di bawah tanah, stok makanan ditimbun, orang-orang di sekitar ‘zona merah’ merasa maut segera mendekat.

Sementara itu, persaingan antar Blok Barat dan Blok Timur juga mempengaruhi konstelasi global. Kapitalis versus Komunis menjadi wacana yang mendominasi dunia kala itu.

Hingga Perang Dingin berakhir pada 26 Desember 1991, konfrontasi perang fisik dalam skala luas tak sampai terjadi.

Meski pada kenyataannya, ada sejumlah insiden yang nyaris memicu Perang Dunia III. Untung sejumlah orang muncul dan menjadi ‘pahlawan’.

Mereka bukan para petinggi Gedung Putih maupun Kremlin, hanya orang-orang biasa yang memilih mengikuti intuisi dan akal sehat.

Bagi negaranya, orang-orang itu melakukan ‘dosa besar’. Melanggar aturan dan perintah komandan. Namun, sejarah mengakui mereka sebagai ‘penyelamat dunia’. MencegahPerang Dunia III

Siapa saja mereka? Ini 2 di antaranya:

1. Vasili Arkhipov

 

Bagi mereka yang lahir sebelum 27 Oktober 1962, Vasili Alexandrovich Arkhipov mungkin menyelamatkan hidup Anda. Tak hanya itu, keputusannya bahkan menyelamatkan dunia dari kehancuran.

Sebab, itu adalah hari yang paling berbahaya dalam sejarah, di tengah Krisis Rudal Kuba (12-28 Oktober 1962).

Kala itu, sebuah pesawat mata-mata milik Amerika Serikat ditembak jatuh di Kuba, sementara U2 lain justru tersesat dan menyimpang ke wilayah udara Uni Soviet.

Drama penuh ketegangan itu bergeser ke titik gawat kala kapal perusak AS, USS Beale kemudian mulai menyisir lautan, mencari keberadaan kapal-kapal selam Moskow.

B-59, kapal selam Uni Soviet, menjadi salah satu target buruan AS. Kala itu, pihak Amerika tak tahu, B-59 dipersenjatai dengan senjata nuklir.

Ada 22 torpedo yang diangkut di dalamnya, salah satunya adalah bom nuklir yang bisa menimbulkan kehancuran, lebih parah dari yang dialami Hiroshima dan Nagasaki.

Para kapten kapal selam diberi izin untuk meluncurkan torpedo nuklir, asalkan mendapat izin dari pejabat politik yang ditugaskan di sana.

Sementara itu, Kapten B-59, Valentin Savitsky tak tahu bahwa berondongan yang diluncurkan AS adalah aksi non-mematikan yang ditujukan sebagai tembakan peringatan untuk memaksa kapalnya menyembul ke permukaan.

USS Beale, dengan kapal perusak lain berusaha memancing keluar bahtera itu menggunakan amunisi.

Semua orang dalam kapal selam dalam kondisi lelah setelah sebulan melaut. Makanan dan air terbatas, belum lagi suasana sumuk bukan main.

Savitsky yang dalam kondisi kelelahan berasumsi, kapal selamnya dijadikan target. Ia bahkan menyangka, Perang Dunia III telah pecah. Karena komunikasi terputus, mereka tak tahu apa yang terjadi di dunia luar.

Maka, torpedo nuklir berkekuatan 10 kiloton yang ada di B-59 disiapkan untuk diluncurkan. Targetnya adalah USS Randolf, kapal induk raksasa yang memimpin gugus tugas AS.

Seandainya torpedo dari B-59 diluncurkan ke Randolf, awan nuklir niscaya akan menyebar dari laut ke daratan.

Sejumlah titik akan jadi sasaran saling balas: Moskow, London, pangkalan udara di East Anglia dan konsentarasi pasukan di Jerman.

Gelombang bom atom berikutnya akan mengincar ‘target-target ekonomi’ — diperkirakan setengah populasi Inggris akan tewas.

Sementara, Single Integrated Operational Plan (SIOP) — skenario ‘kiamat’ milik Pentagon pastinya bakal meluncurkan 5.500 senjata nuklir ke ribuan target, termasuk ke negara-negara yang kala itu masuk kategori ‘non-agresif’ seperti China dan Albania.

Apa yang akan terjadi ke AS sendiri tidak pasti kala itu. Alasan bahwa Nikita Khrushchev mengirim rudal ke Kuba adalah karena Uni Soviet tidak memiliki ICBM atau rudal jarak jauh yang bisa mencapai AS.

Bisa jadi Negeri Paman Sam akan mengalami kehancuran yang lebih sedikit daripada yang dialami Inggris dan Eropa Barat.

Keputusan untuk tidak memulai perang dunia ketiga tidak diambil di Kremlin atau Gedung Putih, tapi di ruang kontrol kapal selam.

Peluncuran torpedo nuklir B-59 memerlukan persetujuan dari ketiga perwira senior kapal. Vasili Arkhipov satu-satunya yang menolak.

Seandainya ia tak ada saat itu, perang nuklir niscaya pecah.

Arkhipov agar bersikukuh kapalnya menyembul ke permukaan dan mengontak Moskow untuk meminta nasihat. Argumen panas lantas terjadi, namun akhirnya mereka setuju B-59 muncul ke permukaan. Apalagi masalah teknis terjadi kala itu.

Dari sisi Rusia, tindakan itu dianggap ‘pengecut’. Keputusan Vasili Arkhipov dianggap tindakan menyerah.

Namun, bagi istrinya, Olga, Vasili Arkhipov adalah pahlawan.

“Seorang pria yang mencegah terjadinya perang nuklir adalah awak kapal selam Rusia. Namanya adalah Vasili Arkhipov. Aku bangga pada suamiku. Selalu bangga.”

2. Stanislav Petrov

Pada 30 tahun lalu, 26 September 1983, dunia diselamatkan dari potensi bencana nuklir. Subuh itu, sistem peringatan dini milik Uni Soviet mendeteksi serangan rudal dari Amerika Serikat.

Tampilan data di komputer menunjukkan, sejumlah rudal telah diluncurkan.

Sesuai protokol, Uni Soviet akan membalasnya dengan serangan nulkir.

Namun, petugas jaga kala itu, Stanislav Petrov — yang bertugas mendata apa yang nampak sebagai peluncuran rudal musuh — memutuskan untuk tidak melapor ke atasannya. Ia menganggapnya sebagai alarm palsu (false alarm).

Apa yang dilakukan Petrov di satu sisi adalah pelanggaran atas instruksi atasannya, sebuah kelalaian tugas.

Namun, keputusannya mungkin telah menyelamatkan dunia.”Aku punya semua data (yang menunjukkan telah ada serangan rudal berkelanjutan). Jika aku mengirim laporan soal itu ke rantai atasanku, tak ada yang akan menentangnya,” kata Stanislav Petrov, seperti dimuat BBC.

Petrov, yang pensiun dengan pangkat terakhir letnan kolonel dan kini tinggal di kota kecil dekat Moskow, adalah bagian dari tim terlatih yang bertugas di salah satu basis sistem peringatan dini Uni Soviet, yang tak jauh dari Moskow.

Pelatihan yang ia jalani sangat ketat, melaksanakan perintah yang sangat jelas: mendaftar serangan rudal dan melaporkan ke para petinggi militer dan politik. Dalam iklim politik tahun 1983, serangan balasan hampir pasti dilakukan.

Mengapa Petrov tak melaksanakan tugasnya?

Dia menceritakan, saat momentum itu terjadi, ia seakan membeku. “Sirine meraung-raung, tapi aku hanya duduk di sana selama beberapa detik, menatap layar lebar yang terang dengan sinar merah. Ada kata ‘peluncuran’ di sana.”

Sistem menunjukkan level keandalan peringatan adalah “yang tertinggi”. Tak ada keraguan lagi, AS telah meluncurkan rudal.

“Semenit kemudian sirine kembali berbunyi, artinya rudal kedua telah diluncurkan. Lalu yang ketiga, keempat, dan kelima. Komputer mengganti peringatan dari ‘peluncuran’ menjadi ‘serangan rudal’.”

Petrov mengisap rokok murah buatan Rusia saat menceritakan kejadian itu. “Tak ada aturan pasti tentang berapa lama kami diizinkan berpikir sebelum melaporkan adanya serangan. Namun kami tahu bahwa setiap detik penundaan akan mengurangi waktu yang berharga.” Pihak militer Uni Soviet dan pemimpin politik harus diberi tahu secepatnya.

“Yang harus aku lakukan saat itu adalah menggapai telepon, menekan nomor sambungan langsung ke komandan kami — tapi aku sama sekali tak bisa bergerak. Aku seperti duduk di atas wajan penggorengan yang panas,” kata Petrov. Hatinya diliputi keraguan.

Apalagi, selain ahli IT seperti dia, Uni Soviet punya ahli lain yang bertugas mengawasi kekuatan misil AS. Sejumlah operator radar satelit mengatakan kepadanya, tak ada rudal yang terdata dalam sistem mereka.

Namun, orang-orang tersebut hanya bersifat pendukung. Sementara protokol dengan jelas menyebut, keputusan didasarkan apa yang tertera dalam layar komputer.

Petrov justru merasa curiga terhadap betapa kuat dan jelasnya peringatan kala itu.

“Ada 28 atau 29 level keamanan. Setelah target diidentifikasi, ia harus melewati sejumlah ‘checkpoint’. Saat itu aku tak yakin peringatan bisa sekuat itu.”

Ini yang kemudian ia lakukan. Petrov lalu menghubungi petugas jaga di markas militer Uni Soviet dan melaporkan telah terjadi kesalahan sistem. Seandainya saja perkiraannya salah, ledakan nuklir pertama bisa terjadi beberapa menit kemudian.

Untung yang terjadi sebaliknya. “Selama 23 menit kemudian aku menyadari tak ada apapun yang terjadi. Jika memang serangan itu nyata, aku pasti mengetahuinya. Bagiku, itu sangat melegakan,” kata dia, dengan senyuman tersungging di bibirnya.

Kini, 30 tahun kemudian, Petrov menyadari situasi saat itu 50:50. Dan ia mengakui, kala itu ia tak benar-benar yakin itu adalah kesalahan sistem.

Petrov menceritakan, dia satu-satunya dalam tim yang menerima pendidikan sipil. “Semua kolegaku adalah tentara profesional yang diajarkan untuk memberi dan mematuhi perintah.”

Seandainya saja satu di antara para koleganya yang berjaga malam itu, keadaannya mungkin jauh berbeda. Perang nuklir tak bisa dielak.

Petrov mengakui, ia mendapat teguran atas keputusannya malam itu. Bukan tentang apa yang ia perbuat, melainkan terkait pelanggaran administrasi.

Sejak itu, selama 10 tahun, Petrov bungkam soal kejadian 26 September 1983. “Karena kupikir sangat memalukan bagi militer Soviet jika orang tahu sistemnya telah melakukan kesalahan fatal seperti itu.”

Baru setelah Uni Soviet runtuh, kisah Petrov bocor ke pers. Ia pun diganjar banyak penghargaan internasional.

Namun, Petrov tak pernah merasa dirinya pahlawan.”Itu adalah tugasku,” kata dia. “Hanya kebetulan, dan untungnya, aku yang bertugas malam itu.”